Wednesday, March 11, 2015

Hostage Fest 1.0, Amsyong Preng!

Bisa dibilang sih ini curhatan preng yang bisa dijadiin cerminan yang gw rasain dari dulu mengenai so called "public space" dan keadaannya di Jakarta ini. Dan ampir bisa dibilang kalo di Jakarta ini dengan beragam orang dan interestnya apakah entu musik dr genre styls dsbg atopun komunitas lainnya gak punya yang bener2 bisa dikatakan public space dalam fungsi sebener2nya.
Dan tulis abang Geri yang ganteng ini mungkin akan saya re-blog via tumblr doski di ni webzine. Selamat membaca!

Diawali dengan keceriaan hostage mini fest tahun lalu di Bebop studio tebet, kala itu saya dan Agus menjadi mitra bersama, merogoh kocek sebesar 600san ribu dari dompet masing masing untuk biaya sewa studiosebesar 1,2 juta. Acara kami memakai sistem donasi yang notabene adalah sukarela (gratis). waktu itu ada The Kuda yang agak nyasar dikit dan sempat terlantar (maaf ya, hahaha), ada hell on fire, vague, raincoat, Individual distortion, elmei, dan quickbullet. Gigs tersebut murni dibuat untuk kesenangan bersama, tanpa bantuan pihak luar, tanpa misi terselubung, dan tidak mengatasnamakan profit. mungkin bila segerombolan anak muda kaya gemar bersenang senang (gaya hidup “hedon”) dengan menghabiskan sekitar 2 jutaan (atau lebih) untuk “buka botol” di tempat tempat urban seperti beer garden dan sejenisnya, saya dan Agus lebih memilih untuk menghabiskan 600 ribu untuk membuat pertunjukan band band keren (gigs). Yah, intinya setiap orang mempunyai cara masing masing untuk menggunakan duit mereka dengan tujuan menikmati hidup,dengan jumlah nominal uang yang berbeda tentunya. Mungkin buat om om “bengal”, mereka memilih untuk menghabiskan berjuta juta rupiah untuk menyenangkan dan memuaskan “nafsu” mereka, beberapa anak jalanan lebih memilih menghabiskan beberapa puluh ribu untuk aibon,atau ibu ibu sosialita yang gemar menghabiskan puluhan sampai ratusan juta untuk tas, sepatu, dan mungkin saja koleksi mobil mewah. Bebaslah, terserah, saya hanya melampirkan mereka sebagai contoh,bukan untuk menghakimi.   
Lalu maju ke tahun 2015, dengan antusiasme dan niat yang tetap sama, saya menggagas ide untuk membuat lanjutan Hostage Fest. Ide ini saya jelaskan dengan seksama kepada seorang kawan (Toro Elmar) yang juga kerap bikin gigs dan kerap rugi (senasib). Kami berdiskusi cukup lama dengan usulan nama nama tempat yang biasa dijadikan “venue” di Jakarta, dari maitrin di jaktim, Traffic corner di tangerang, dan masih banyak lagi, sampai akhirnya dari seorang narasumber saya mendapatkan info bahwa sebuah sanggar tari di pasar santa disewakan dan bisa digunakan untuk gigs dengan harga terjangkau. Kebetulan ide ide kami sebelumnya untuk venue berlokasi diluar jakarta selatan, jadi kami cukup gembira ketika mengetahui tentang sanggar taripasar santa ini. Lumayanlah ya, gak terlalu jauh dari rumah. Terus terang, saya jarang ke pasar santa dan tidak tahu menahu tentang seputar dunia hingar bingar “happening”nya tempat itu dan belum bisa terbayang nanti gigsnya akan jadi seperti apa. Toro sibuk mencari sound, saya sibuk mencari band. Ketika semua mulai terlihat beres (sanggar tari sudah dibooking, uang muka sound sudah dibayar, band band sudah ada, poster sudah jadi) saya pun gencar menyebar poster di social media. Kali ini, semua pengeluaran murni keluar dari dompet saya sendiri yang semuanya bertotal dua jutaan (biaya sound 1,5 juta, biaya sewa venue, transport dll sekitar 600 ribuan). Terasa sangat berat menimbang bahwa saya hanya seorang karyawan biasa, susah mencari duit dua juta (fakta: saya meminjam 300 ribu dari pacar dan 700 ribu dari salah satu tenant pasar santa tapi semua sudah saya lunasi, jangan kuatir hehehe). Atas dasar ini, saya memutuskan untuk memberikan harga tiket 20ribu supaya tidak merugi terlalu besar (2 jutaan). Dengan perhitungan sederhana, kapasitas sanggar tari yang cukup kecil hanya memuat sekitar 50 orang (sudah termasuk personil band sekitar 20orang), Nah silahkan dihitung sendiri 20ribu dikali 30orang berapa (atau 50 juga boleh). Dengan harga segitupun sudah sangat susah sekali untuk balik modal, tapi saya pun iklas dan tidak keberatan karena tujuan saya (lagi lagi) bukan profit. Pada hari selasa (H - 4), saya dihubungi oleh salah satu senior/dedengkot komunitas pasar santa untuk membahas acara saya. Sudah disebut bahwa saya jarang ke pasar santa dan terus terang agak buta mengenai keadaan pasar santa yang ternyata sedang mengalami polemik. Sebuah masalah kompleks yang melibatkan harga sewa kios yang dinaikkan secara semena mena, dan kelangsungan hidup para pedagang pedagang lantai bawah di pasar tersebut. Untuk yang tertarik dengan kondisi pasar santa bisa baca  https://pasarsantablog.wordpress.com/ . Setelah berdiskusipanjang, asosiasi atau komunitas santa ini memberitahukan bahwa biasanya, ada sebuah proses birokrasi yang harus dilalui lewat mereka, ketika seseorang ingin membuat acara (khususnya musik) di pasar santa. Tidak hanya itu, mereka juga melayangkan protes tentang acara saya yang bertiket, karena dianggap akan berdampak buruk dan menambah masalah didalam pasar santa yang sedang berpolemik. Di satu sisi, saya sedikit banyak cukup bersimpati dengan keadaan pedagang lama pasar santa yang terancam keberadaannya, namun di sisi lain, saya pun kecewa sekali membayangkan betapa saya harus merugi banyak karena acara Hostage Fest tidak akan bertiket. Sempat terpikir untuk pindah venue, tapi bagaimana bisa karena sudah tinggal 4 hari lagi, terlalu mepet. Sempat juga ditawari lokasi tangga dari asosiasi santa tersebut, tapi saya rasa hampir tidak mungkin karena terlalu sempit. Sempat pula terpikir untuk membatalkan atau menunda acara, tetapi sudah kepalang tanggung karena sudah bayar uang muka. Lalu pilihan saya mendadak terbatas menjadi dua: 1. kehilangan ratusan ribu dengan dampak mengecewakan band band yang sudah saya undang, dan antusiasme kawan kawan yang ingin datang atau.. 2. bersiap merugi total tetapi acara tetap berjalan dan tidak ada yang merasa kecewa (kecuali saya) Ya, akhirnya saya memlilih nomor dua. Acara tetap berjalan, namun akal saya tidak sempit. Saya meminta bantuan dari kawan kawan we hum (terima kasih odoy, avin, tomo) dan menurut mereka masalah “htm” bisa diakali dengan kotak donasi dan “merchandise”. Acara berlangsung meriah, saya puas dan sangat senang dengan kelangsungan acara hostage fest 1.0!! SSSLOTHHH benar benar mengguncang lantai sanggar tari, Rizkan stoneage records benar benar menunjukkan solidaritasnya (terima kasih banyak sumbangan kasetnya ya bos!), the stocker mendapat nilai 9/10 dari saya atas aksi panggung dan performa yang sungguh rapi dan menghibur, saturday night karaoke yang lagi lagi berhasil memanjakan penonton, Aggi yang mempesona, dental surf combat yang menerima dengan ikhlas ketika saya posisikan sebagai band terakhir, dan tentu saja saya harus benar benar berterima kasih kepada seluruh pengunjung yang memberikan uang di kotak donasi dan membeli merchandise, karena tanpa kalian, saya akan benar benar rugi total, dan terima kasih spesial juga buat Natalia, Ferdi, Toro, anak wehum (odoy avin tomo) madam Ezra dan Bli Nyoman dan untuk SSSLOTHHH, Saturday Night Karaoke, The Stocker, Sanei, Avin Amukredam, Aggi, Paralerpe, dan Dental Surf Combat. Di akhir acara, saya berhasil mengumpulkan setengah dari pengeluaran. Terakhir, setidaknya komunitas pasar santa bisa bernafas lega karena saya tidak akan buat lagi disana. Nantikan kembali Hostage Fest berikutnya! (bukan di pasar santa). 
XoXo
-Gary Hostage-

No comments: